MEMORI HISTORIS INDONESIA – MESIR: PENGAKUAN KEDAULATAN REPUBLIK INDONESIA OLEH DUNIA INTERNASIONAL

 

            Hubungan diplomatik antara Republik Indonesia (RI) dengan Republik Arab Mesir telah berlangsung cukup lama sejak 65 tahun tahun yang lalu, yakni ketika kedua negara menandatangani Treaty of Friendship and Cordiality pada tanggal 10 Juni 1947, yang kemudian diikuti dengan pembukaan perwakilan resmi RI di Cairo, Ibukota Mesir, pada tahun 1949. Republik Arab Mesir juga merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan dan kedaulatan RI pada tanggal 18 November 1946, sehingga hubungan diplomatik kedua negara dilandasi oleh hubungan emosional yang kuat serta pandangan yang sama tentang hakikat kemerdekaan.

Terkait dengan hubungan diplomatik kedua negara, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Indonesia untuk Republik Arab Mesir, Komjen (purn) Nurfaizi, menyatakan: “Mesir bagi Indonesia sangat penting karena memiliki hubungan historis yang panjang, terutama tercatat dalam sejarah sebagai negara pertama mengakui kemerdekaan Republik Indonesia,” katanya kepada Suara Karya, di Jakarta, Jumat (30/12).[i]Bersama-samaIndia danPakistan, serta negara-negara anggota Liga Arab, Republik Arab Mesir telah turut aktif mendukung perjuangan kemerdekaan RI di kancah diplomatik internasional yang saat itu masih dalam ancaman penjajah Belanda untuk kembali menguasai tanah airIndonesia.

Peran penting Mesir dalam membantu Indonesia mempertahankan kemerdekaannya tampak jelas dari kunjungan Muhammad Abdul Mun’im, Konsul Jenderal Mesir di Bombay (sekarang Mumbay, India) yang datang ke Yogyakarta (ibukota RI saat itu)  pada tanggal 13 – 16 Maret 1947. Menurut Anis Rasyid Baswedan, Muhammad Abdul Mun’im melakukan kunjungan ke Indonesiauntuk mewakili negerinya dan membawa pesan dari Liga Arab yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Saat itu, Abdul Mun’im datang ke Indonesiadengan ditemani oleh Ktut Tantri (Nama asli: Muriel Pearson), seorang perempuan Amerika yang banyak membantu perjuangan rakyat Indonesiadi masa revolusi.[ii]

Pada tanggal 15 Maret 1947, bertepatan dengan ulang tahun kemerdekaan Mesir yang ke-23, Beliau menghadap Presiden Sukarno untuk menyampaikan pesan-pesan dari Liga Arab. Pesan tersebut merupakan hasil keputusan sidang Dewan Liga Arab yang diselenggarakan pada tanggal 18 November 1946 yang menganjurkan seluruh anggota Liga Arab mengakui kedaulatan Republik Indonesiaberdasarkan ikatan keagamaan, persaudaraan serta kekeluargaan.[iii]

Dukungan dari negara-negara anggota Liga Arab, khususnya Mesir,  terhadap kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia atas dasar ikatan keagamaan (Islam), persaudaraan, dan kekeluargaan merupakan bagian penting dan faktor utama dalam diplomasi revolusi bangsa Indonesia di masa-masa awal kemerdekaan. Adanya dukungan resmi dari Liga Arab dan kunjungan Konsul Jenderal Mesir merupakan peristiwa yang sangat penting dan bersejarah bagi Indonesia, karena untuk pertama kalinya RI sebagai negara merdeka dan berdaulat menerima kunjungan diplomatik resmi dari Republik Arab Mesir yang membawa pesan dari organisasi internasional Liga Arab.

Sebagai jawaban (respon) atas keputusan dan tindakan Liga Arab, Indonesialalu mengirimkan sebuah delegasi ke negara-negara Timur-Tengah (Arab) dengan misi diplomatik untuk memperkenalkan RI ke dunia internasional. DelegasiRIdpimpin oleh Haji Agus Salim (Menteri Muda Luar Negeri) dengan anggota-anggota: A.R. Baswedan (Menteri Muda Penerangan), Nazir Pamuntjak (Pejabat di Kementerian Luar Negeri), H.M. Rasjidi (Pejabat di Kementerian Agama), dan R.H. Abdulkadir (Pejabat di kementerian Pertahanan). Negara pertama yang dikunjungi oleh delegasi ini adalah Mesir yang menghasilkan Perjanjian Persahabatan RI – Mesir pada tanggal 10 Juni 1947.[iv]

Perjanjian Persahabatan RI – Mesir ditandatangani oleh H. Agus Salim dari pihak RI, dan dari pihak Mesir diwakili oleh Mahmoud Fahmi Nokrasyi, Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Mesir. Sebagai tindak lanjut, pada tanggal 7 Agustus 1947, H. Agus Salim membuka perwakilan RI di Mesir, dan mengangkat H.R. Rasjidi sebagai Ketuanya dengan kedudukan Charge d’ Affairs (Kuasa Usaha).[v] Dengan demikian, Republik Arab Mesir menjadi negara pertama yang dengan resmi mengakui kemerdekaan dan kedaulatan RI baik secara de jure maupun de facto.

Dalam salah satu pernyataan politiknya, Presiden RI, Ahmad Soekarno, menyatakan bahwa diantara negara-negara Arab dan Indonesia sudah lama terjalin hubungan yang kekal “karena diantara kita timbal balik terdapat pertalian agama”. Pernyataan Presiden Soekarno ini ditegaskan lagi oleh Perdana Menteri RI, Sutan Syahrir, dalam pernyataan politiknya, yaitu: “Adalah suatu kenyataan adanya kecenderungan mengembang dalam ummat Islam di dunia ke arah persatuan dan peleburan dalam satu persaudaraan Islam yang bertujuan memutuskan rantai-rantai penjajahan asing….. Indonesiamenyokong Pakistansepenuhnya. Indonesianegeri Islam dan akan berjuang di barisan kaum Muslimin”.[vi] 

Pernyataan politik dari Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Sutan Syahrir tersebut merupakan respons dari keputusan resmi sidang dewan Liga Arab pada tanggal 18 November 1946 yang menganjurkan kepada semua negara anggota Liga Arab untuk mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat. Alasan Liga Arab memberikan dukungan kepada Indonesiamerdeka didasarkan pada ikatan keagamaan, persaudaraan, serta kekeluargaan. Bahkan jauh sebelumnya beberapa negara Arab seperti Mesir, Syria, Iraq, Lebanon, Yaman, Saudi Arabia dan Afghaistan telah tercatat sebagai negara-negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI.[vii] Dengan demikian, agama Islam yang dianut oleh mayoritas bangsaIndonesia merupakan penyebab utama dan faktor penting dari diakuinya kemerdekaan dan kedaulatan RI oleh negara-negara Arab yang mayoritas juga beragama Islam.

Mengenai agama Islam sebagai faktor penting dan utama bagi Mesir untuk mendukung kemerdekaan Indonesia ini juga terlihat jelas dari simpati rakyat Mesir terhadap perjuangan kemerdekaan di indonesia, yakni pada saat rapat umum partai-partai politik dan organisasi massa pada tanggal 30 Juli 1947. Bahkan diantara pembicara juga terdapat Presiden Habib Burguiba dari Tunisiadan Allal A. Fassi, pemimpin Maroko. Rapat umum tersebut menyetujui satu resolusi, antara lain: [viii]

  1. Pemboikotan barang-barang buatan Belanda di seluruh negara-negara Arab
  2. Pemutusan hubungan diplomatik antara negara-negara Arab dan belanda
  3. Penutupan pelabuhan-pelabuhan dan lapangan terbang di wilayah Arab terhadap kapal-kapal dan pesawat-pesawat Belanda (Secara riil, hal ini dilaksanakan di TerusanSuez);
  4. Pembentukan tim-tim kesehatan untuk menolong korban-korban agresi belanda (secara riil, Mesir mengirim misi Bulan Merah keIndonesialengkap dengan obat, alat kesehatan dan tim dokter).

 

Dukungan yang sangat heroik dan luar biasa dari Rakyat dan Pemerintah Mesir ini tidak dapat dipisahkan dari perjuangan keras Haji Agus Salim, Menteri Muda Luar Negeri RI, bersama koleganya dari Mesir, Hasan Al-Banna, Rais Aam Jam’iyah Ikhwanul Muslimin. Pada tanggal 22 Maret 1946, Pemerintah Mesir atas desakan Imam Hasan Al-Banna mengakui kemerdekaan Indonesia, dan langkah ini segera diikutioleh negara-negara Arab lainnya. Pada tanggal 26 April 1946, delegasi pemerintah RI kembali tiba di HotelHeliopolisPalace, Kairo. Di hotel ini, Haji Agus Salim dan rombongan bertemu sekali lagi dengan Imam Hasan Al-Banna dan beberapa pejabat tinggi Mesir dan Arab, serta para pemimpin partai dan organisasi setempat. Hasilnya, para petinggi ini menyampaikan rasa simpatinya kepada Rakyat Indonesiasebagai sesama negara yang baru merdeka.[ix]

Kedekatan Haji Agus Salim dengan berbagai ulama di Mesir berawal dari karirnya sebagai penerjemah Konsul Belanda di Jeddah, dan menjadi murid Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau bersama KH. Ahmad Dahlan dan Hadhratush Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di Mekkah. Secara tak langsung, hal ini membuat para ulama di Mesir tergerak untuk mendirikan Lajnatud Difa’I’an Indonesia (Panitia Pembela Indonesia), yang dideklarasikan pada tanggal 16 Oktober 1945 di gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam dengan Jenderal Saleh Harb Pasya sebagai pimpinan pertemuan. Dalam acara itu, hadir pula Syaikh Hasan al-Banna dan Prof. Taufiq Syawi dari Ikhwanul Muslimin, pemimpin Palestina, Muhammad Ali Taher, dan Sekretaris Jenderal Liga Arab, Dr. Salahuddin Pasya.[x]

Dari sejumlah rangkaian peristiwa inilah negara-negara Arab, terutama Mesir, mengakui kedaulatan dan kemerdekaan RI yang telah diproklamirkan oleh Soekarno – Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Para ulama bersama-sama rakyat dan pemerintah negara-negara Arab pun bersatu padu dan turut aktif dalam mendukung perjuangan bangsa Indonesiayang sedang mempertahankan kemerdekaannya, terutama melalui langkah-langkah diplomasi revolusi. Sehingga pemerintah Mesir bersama negara-negara Arab lainnya mengakui kedaulatan RI baik secara de jure maupun de facto, dan pada saat yang bersamaan menutup pelabuhan-pelabuhan dan lapangan terbang di wilayah Arab terhadap kapal-kapal dan pesawat-pesawat Belanda.


[i]  Suara Karya Online, “Diplomat: Indonesia-Mesir Punya Hubungan Historis”, Senin, 2 Januari 2012, http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=294256  

[ii] Lihat artikel AR Baswedan dalam buku: Seratus Tahun Agus Salim, dalam: Kisah Hubungan Diplomatik Mesir  –  Indonesia, http://www.scribd.com/seiskam/d/54116624-Mesir-Dan-Kemerdekaan-Indonesia, hlm 8.

[iii] Ibid.

[iv] M. Riza Sihbudi, Indonesia-Timur Tengah: Masalah dan Prospek, Jakarta: Gema Insani Press, 1997, hlm 26, http://books.google.com/books?id=mKyUwVVjlhAC&pg=PA26&lpg=PA26&ots=HWtiviP1tu&dq=Sutan+Syahrir,+Mesir&output=html_text

[v] Ibid

[vii] Ibid.

[viii] Miftakhur Rohman, “Mesir Negara Pertama yang Mengakui Kedaulatan Indonesia,” 09:42 http://mamkencong.blogspot.com/2012/02/mesir-negara-pertama-ygn-mengakui.html?m=0

[ix] Ekky Imanjaya, “Haji Agus Salim dan Pertemuannya dengan Imam Hassan al-Banna,” http://ekkyij.multiply.com/ journal/item/20, 22 Mei 2007, 10:59 PM 

[x] Ibid